Paket

Hikmah dari postingan kali ini aku tulis diawal:

  1. Berharap pada manusia, pasti kecewa
  2. Rendahkan ekspektasimu serendah mungkin, sehingga harapanmu tidak menjatuhkanmu terlalu sakit
  3. Jika memang tidak ditakdirkan untukmu, apapun usahamu tidak akan membuahkan hasil

Aku berencana berangkat menuju perantauan sekitar pukul 10 pagi. Segala persiapan sudah kulakukan. Barang yang perlu dibawa. Kondisi motor. Segala sesuatu memungkinkan aku untuk segera berangkat. Satu satunya alasan ketika jam dinding menunjukkan waktu pukul 10 dan aku belum juga berangkat adalah, menunggu. Menunggu paketku datang.

Aku baru saja membeli buku yang bagus. Walaupun, sampe ajal ku tiba dan aku tidak membaca buku itu, aku tidak akan rugi. Alasanku menunggu paket itu datang bukan karena bukunya, melainkan sensasi unboxing nya.

Sebuah proses pelepasan hormon menyenangkan seperti adrenalin, serotonin, dan dopamin yang didapatkan dari scrolling marketplace. Melihat lihat barang yang tidak kamu butuhkan. Memasukkannya ke keranjang belanja. Lalu menghapusnya karena kamu sadar kamu tidak butuh. Mengulangi proses tersebut hingga dorongan impulsif mu datang. Checkout. Perasaan dagdigdug menunggu paket datang. Merekam video unboxing. 

Jika barangnya mengecewakan, maka proses itu berlanjut. Komplain dengan seller. Bintang satu. Menceritakan kepada teman atau keluarga tentang pengalaman burukmu belanja online. Atau jika barangnya sesuai dengan apa yang kamu pesan, maka perasaan dagdigdug itu pun selesai. Semua kesatuan ini bersifat adiktif, bagaikan mengkonsumsi narkoba tingkat tinggi.

Jika salah satu dari proses itu belum lengkap, atau belum terlaksana, seperti ada yang kurang dalam hidupmu.

Dan disinilah aku. Pukul 10 pagi. Dengan perasaan berdebar. Menunggu paketku datang.

Aku buka aplikasi belanja online. Setiap 5 menit. Sampai dimana kurir yang membawa paketku. Menurut aplikasi, sejak pukul 8 pagi si kurir sudah berangkat mengantarkan paketku. Dimana? kenapa lama? ada apa? Aku bertanya tanya sedikit khawatir dengan nasib si kurir. Mondar mandir di ruang tamu, teras, dan dapur. Buka tutup aplikasi belanja online. Gelisah.

"Waktu sudah menunjukkan pukul 12. Kenapa kamu belum berangkat?" Tanya ibunda.

"Aku masih menunggu paketku datang" Jawabku sembari melihat layar ponsel.

Setiap ada motor lewat di depan rumah, aku tengok. Ada motor berhenti, aku keluar melihat. Adik ku melihat tingkah laku kakaknya yang gelisah pun berkata.

"Hikmah nomor 1" Katanya.

Kondisi rumah ku saat itu, ayahanda sedang mengharapkan tamu datang. Ada rapat bapak-bapak yang diadakan di rumahku. Semua tamu ayahanda, aku yang menyambut. Bukan karena sopan atau apa, aku mengira mereka kurir yang mengantarkan paketku. Suara motor berhenti, aku keluar membuka pintu, dan ya, tamu ayahanda ku persilahkan masuk.

Sekian waktu berlalu, tamu ayahanda sudah kembali ke rumah masing-masing. Penghuni rumah ku sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sementara aku masih setia menunggu. 

Ada suara motor berhenti, responku kali ini sudah sangat biasa. Aku teringat hikmah nomor 1. Tetapi tiba tiba orang yang turun dari motorku berteriak.

"PAKET"

Apakah ini sudah saatnya? Adrenalin mengalir deras. Aku bergegas. Ketika aku buka pintu, ternyata ayahanda pulang dari warung. Sedikit ayahanda tampakkan senyum di wajahnya, seakan akan berkata, kena deh. Ibunda ku melihat kejadian itu, berkata padaku.

"Hikmah nomor 2"

Ada sebuah hal yang aku sadari dari semua proses ini. Setiap ada motor lewat, aku selalu memperhatikan suaranya. Aku tidak tau di tempat lain, tapi di tempat ku, suara motor kurir sangatlah khas. Suara motor yang jarang di servis. Breketek breketek otok otok. Seperti sudah tua. Namun tetap dipaksa bekerja. Saat motor dengan suara seperti itu lewat, aku mengira itu motor kurir, ternyata motor tetangga. Bahkan motor tamu ayahanda.

Ternyata lingkungan tempat ku tinggal berisi orang yang tidak pernah servis motor. Ingin rasanya aku membuat spanduk besar. Ku tempatkan di depan rumahku.

"Yang ga pernah servis motor jangan lewat sini" begitu tulisannya. Sehingga aku tidak begitu hikmah nomor 1.

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Ibunda ku berkata.

"Hikmah nomor 3"

Ada benarnya, entah apa yang terjadi dengan si kurir. Tidak ada kepastian kapan paketku datang. Mau selama apa aku menunggu, se sering apa aku keluar rumah, jika memang tidak waktunya datang, maka tidak akan datang. Oh Paketku. Mengetahui hal itu, aku masih tetap menunggu. Tanggung. Sekalian saja sampai pukul 5 sore. Jika pada saat itu tetap tidak datang, aku akan pergi ke perantauan.

Benar saja, mau tak mau aku harus pergi. Kepergianku saat ini dilepas dengan tawa oleh orang orang di rumah. 3 hikmah diberikan padaku. Berat hati aku berangkat, dengan senyuman kecut aku memberi salam.

Di perjalanan, belum keluar wilayah perumahan ku. Aku melihat orang yang membawa kantung di motornya, dia berhenti di pinggir jalan sambil melihat layar ponselnya. Apakah dia kurir paketku yang sedang mencari alamat pasti dari rumahku. Aku datangi dia.

"Pak kamu kurir mau ngantar paket?" tanyaku dengan penuh harap.

"owaiwaow awikwik nyonyooii" Dia jawab dengan tersenyum. 

Aku tidak mendengar dengan jelas apa yang ia katakan, yang pasti dia bukan kurir. Sepanjang perjalan aku selalu memperhatikan motor di jalur seberang ku. Mungkin saja kurir pengantar paketku terlihat. Masih ada kesempatan kembali ke rumah untuk membuat video unboxing. Setelah berpindah wilayah kota, harapanku pun sirna.

Sesampainya di perantauan, aku membuka layar ponsel. Di grup watsap keluarga, ada foto wajah ibunda tersenyum dengan lebar. Ibunda memegang paket, di captionnya tertulis.

"Paket siapa ini yang datang"